Menembus Batas Negara: Lulusan SMK Muhammadiyah Prambanan Menapak Jalan ke Jepang dan Jerman

Menembus Batas Negara: Lulusan SMK Muhammadiyah Prambanan Menapak Jalan ke Jepang dan Jerman

Smallest Font
Largest Font

SLEMAN — Di sebuah ruang kelas SMK Muhammadiyah Prambanan, pelajaran tidak selalu dimulai dengan buku paket dan papan tulis. Di hari tertentu, bahasa Jepang dan Jerman justru terdengar lebih dominan. Bukan tanpa alasan. Dari sekolah inilah, puluhan siswa bersiap menembus batas negara, bekerja di Jepang dan menapaki jalur pendidikan serta industri di Jerman.

Langkah itu tentu bukan mimpi mendadak. Kepala SMK Muhammadiyah Prambanan, Sigit Rohmadiantoro, S.Pd.T., M.Pd., menyebutnya sebagai ikhtiar panjang sekolah dalam mempersiapkan lulusan agar berani mandiri dan bersaing di level global.

“Sejak kelas X, siswa sudah kami petakan bakat dan minatnya. Ada kelas khusus setiap pekan. Di situlah mereka menentukan masa depannya, entah langsung kerja di dunia industri, berkuliah, menjadi TNI–Polri, atau pergi ke negara luar macam Jepang dan Jerman,” tuturnya kepada Mediamu.com pada Senin (12/1).

Tahun ini, sebanyak 38 siswa kelas XII telah dinyatakan siap mengikuti program kerja ke Jepang. Mereka telah lolos pemeriksaan kesehatan dan kini tengah menjalani pelatihan intensif bahasa Jepang di Semarang, bekerja sama dengan LPK Magita Jaya Perkasa.

Bagi siswa, masa menunggu usia 18 tahun bukanlah waktu yang terbuang. Selama 4–6 bulan, mereka ditempa bahasa dan budaya Jepang untuk mengejar sertifikat N5 atau N4, tiket utama untuk bisa langsung bekerja di negara produsen manga dan anime itu.

“Begitu sertifikat keluar dan usia mencukupi, mereka langsung berangkat. Mayoritas bekerja di sektor konstruksi dengan gaji antara Rp15 juta hingga Rp30 juta per bulan,” jelas Sigit.

Menariknya, hampir seluruh biaya keberangkatan ditanggung melalui sistem talangan LPK. Sekolah memastikan program ini dapat diakses siswa dari keluarga menengah ke bawah tanpa memberatkan orang tua.

Jika Jepang menawarkan jalan cepat menuju kemandirian ekonomi, maka Double Track Jerman menjadi jalur panjang bagi siswa dengan visi akademik dan profesional jangka panjang. Program ini difasilitasi Majelis Dikdasmen dan Pendidikan Nonformal PP Muhammadiyah melalui Matahari Global Edu, dan SMK Muhammadiyah Prambanan ditunjuk sebagai sekolah pionir.

Sebanyak 60 siswa dari kelas X hingga XII telah menyatakan minat mengikuti program ini. Mereka tidak langsung bekerja, melainkan menjalani pelatihan industri di perusahaan Jerman, kuliah S1 secara daring dengan universitas Muhammadiyah, lalu melanjutkan S2 secara gratis di Jerman.

“Ini bukan level operator. Mereka disiapkan menjadi tenaga profesional. Setelah lulus S2, peluang penghasilan bisa di atas Rp70 juta per bulan,” kata Sigit.

Selama masa pelatihan, siswa tetap menerima insentif bulanan, yang langsung masuk ke rekening pribadi tanpa perantara sebagai bentuk transparansi dan perlindungan bagi peserta.

Bagi SMK Muhammadiyah Prambanan, program internasional ini bukan semata soal angka gaji. Lebih dari itu, sekolah ingin mematahkan stigma lama bahwa lulusan SMK hanya “jago kandang” dan tidak berani melangkah jauh.

“Kami ingin anak-anak ini pulang dengan kompetensi, bukan sekadar uang. Mereka diharapkan membantu orang tua, membangun usaha, dan tetap membawa nilai-nilai Muhammadiyah meski hidup di negara minoritas Muslim,” ungkap Sigit.

Ia berharap, ke depan 30–40 persen lulusan SMK Muhammadiyah Prambanan dapat terserap dalam program internasional. Sebuah langkah kecil dari Prambanan, dengan cita-cita besar yang melintasi benua.

Dari ruang kelas sederhana, masa depan global perlahan dirancang dengan disiplin, bahasa asing, dan keyakinan bahwa anak SMK pun mampu bersaing di dunia.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    14
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    2
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    2
    Wow