Mengubah Keterlambatan Menjadi Hafalan: Disiplin Positif Bernuansa Spiritual di SMA Muhammadiyah 1 Sleman

Mengubah Keterlambatan Menjadi Hafalan: Disiplin Positif Bernuansa Spiritual di SMA Muhammadiyah 1 Sleman

Smallest Font
Largest Font

Penulis: Ika Ari Yulianti, M.Sc.* 

Pagi hari di gerbang sekolah kadang kala diwarnai ketegangan. Waktu menunjukkan tepat pukul 07.00 WIB, dan beberapa siswa tampak tergesa-gesa berlari menghindari gerbang yang perlahan menutup. Di banyak sekolah, peristiwa seperti ini biasanya berujung pada hukuman lari keliling lapangan, membersihkan toilet, atau berdiri di depan kelas. Namun, suasana berbeda akan ditemukan di SMA Muhammadiyah 1 Sleman.

Sekolah ini memilih jalan yang lebih teduh, tetapi menghujam dalam ke sanubari siswa, yaitu menerapkan disiplin positif melalui hafalan Al-Qur’an bagi siswa yang datang terlambat.

Dari Hukuman Menjadi Tuntunan

Disiplin positif adalah pendekatan mendidik yang menitikberatkan pada pengembangan motivasi internal siswa, bukan karena takut terhadap ancaman atau kekerasan. SMA Muhammadiyah 1 Sleman berhasil memadukan konsep pedagogi modern ini dengan nilai inti pendidikan Islam.

Ketika seorang siswa datang beberapa menit setelah bel berbunyi, mereka tidak akan disambut dengan bentakan atau sanksi fisik yang melelahkan raga. Sebaliknya, mereka diarahkan ke ruang keagamaan untuk menyetorkan atau membaca hafalan ayat-ayat suci Al-Qur’an di bawah bimbingan guru.

Langkah ini mengubah energi negatif berupa rasa bersalah akibat terlambat menjadi energi positif yang menenangkan melalui lantunan ayat suci Al-Qur’an.

Mengapa Strategi Ini Sangat Tepat?

Ada beberapa alasan kuat mengapa model disiplin berbasis hafalan Al-Qur’an ini patut diacungi jempol dan didukung penuh.

1. Membangun Koneksi Spiritual

Siswa kembali ke kelas dengan hati yang lebih tenang setelah berinteraksi dengan Al-Qur’an, tanpa rasa dendam atau malu karena hukuman fisik.

2. Waktu yang Produktif

Waktu untuk menjalani sanksi tidak terbuang sia-sia. Setiap menit yang dihabiskan untuk menghafal menjadi investasi dunia dan akhirat sekaligus mendukung program tahfiz sekolah.

3. Efek Jera yang Edukatif

Menghafal Al-Qur’an membutuhkan fokus dan konsentrasi. Bagi siswa, proses ini menuntut keseriusan yang secara tidak langsung menumbuhkan kesadaran diri agar keesokan paginya mereka dapat mengelola waktu dengan lebih baik sehingga datang tepat waktu.

Menjaga Esensi Agar Tetap Positif

Agar program ini tetap berjalan dalam koridor disiplin positif dan tidak berubah menjadi beban psikologis, SMA Muhammadiyah 1 Sleman secara konsisten menjaga pendekatan guru dalam menjalankan aturan ini.

Guru pamong atau guru piket mendampingi siswa dengan senyuman, kehangatan, dan motivasi. Target hafalan pun disesuaikan dengan kemampuan masing-masing siswa, mulai dari surah-surah pendek di Juz 30 hingga ayat-ayat pilihan.

Dengan cara ini, Al-Qur’an tidak pernah diposisikan sebagai “alat untuk menghukum” yang menakutkan, melainkan sebagai “ruang penyembuh” dan pengingat atas kelalaian dalam mengelola waktu.

*) Kepala SMA Muhammadiyah 1 Sleman

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    1
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow