Adab Berkemajuan di Era AI: Strategi Sekolah Muhammadiyah Mencegah Krisis Adab Digital

Adab Berkemajuan di Era AI: Strategi Sekolah Muhammadiyah Mencegah Krisis Adab Digital

Smallest Font
Largest Font

Penulis: Ika Ari Yulianti, M.Sc.* 

Dunia pendidikan saat ini sedang berada di persimpangan jalan yang mengkhawatirkan. Bayangkan sebuah ruang kelas di mana guru tak lagi mendampingi praktikum kimia atau menjelaskan reaksi asam basa. Di sudut ruangan, para siswa justru asyik berinteraksi dengan chatbot AI seperti ChatGPT dan Gemini yang menjawab setiap pertanyaan secara instan dan super cepat. Bahkan, tugas penyetaraan reaksi redoks yang rumit kini dapat diselesaikan dalam hitungan detik hanya melalui beberapa baris perintah.

Di tengah laju teknologi yang serba cepat ini, sebuah pertanyaan mendasar muncul: ketika mesin makin pandai berpikir seperti manusia, mampukah siswa kita mempertahankan integritas karakternya?

Bagi Muhammadiyah sebagai gerakan Islam Berkemajuan, fenomena ini bukan sekadar tantangan akademis biasa, melainkan pertaruhan besar terhadap masa depan generasi muda. Kita sedang berhadapan dengan risiko nyata, yaitu ancaman krisis adab digital.

Secara historis, sekolah Muhammadiyah lahir untuk memutus dualisme pendidikan zaman kolonial. Kala itu, pendidikan terbelah antara sekolah modern yang asing dari nilai agama dan pesantren tradisional yang minim ilmu umum. KH. Ahmad Dahlan melakukan terobosan dengan menyatukan ilmu pengetahuan modern dan pembentukan adab. Bagi beliau, kecerdasan tanpa karakter hanya akan mengikis nilai-nilai kemanusiaan. Fondasi inilah yang menjadi pilar Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) bidang pendidikan dalam melahirkan intelektual muslim beradab.

Saat ini, sekolah dan madrasah Muhammadiyah mengandalkan kurikulum Al-Islam, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab (ISMUBA) untuk menanamkan disiplin ibadah serta etika sosial. Siswa dibiasakan bersalaman dengan guru, bertutur kata santun, dan memupuk solidaritas. Namun, ruang belajar kini telah meluas tanpa batas. Ujian etika siswa tak lagi sebatas saat bertatap muka dengan guru di sekolah, melainkan ketika mereka sendirian memegang ponsel dan berinteraksi dengan algoritma digital di mana kontrol sosial mulai melonggar.

Perkembangan artificial intelligence (AI) membawa dampak serius terhadap adab siswa yang harus diantisipasi sejak dini. Kehadiran teknologi ini berpotensi memicu mentalitas instan, mengikis daya juang, dan mengurangi rasa menghargai terhadap proses belajar. Tanpa kendali etika, penghormatan kepada guru dan orang tua bisa luntur, kritik berubah menjadi cyberbullying serta tradisi tabayyun tergeser oleh penyebaran disinformasi. Siswa mungkin mahir memerintah AI, tetapi rentan miskin empati saat berinteraksi di dunia nyata.

Menghadapi tantangan ini, Muhammadiyah tidak boleh bersikap reaktif dengan melarang teknologi. Jawaban yang tepat adalah merumuskan visi "Adab Berkemajuan"—sebuah etika Islam yang kontekstual dan adaptif terhadap zaman, namun tetap berakar kuat pada nilai keagamaan.

Gagasan Adab Berkemajuan perlu diintegrasikan secara nyata ke dalam ekosistem sekolah Muhammadiyah. Etika berteknologi harus menjadi materi penting agar siswa mampu menjadikan AI sebagai mitra berpikir yang bertanggung jawab. Poin-poin kejujuran akademik, etika hak cipta, dan kesadaran bahwa aktivitas digital mencerminkan kualitas iman perlu ditanamkan secara konsisten.

Pendidik Muhammadiyah dituntut bertransformasi menjadi pembimbing etika dan pendamping karakter. Ikatan emosional serta keteladanan dari guru merupakan benteng utama dalam menjaga integritas siswa. Selain itu, kolaborasi dengan 'Aisyiyah dan Nasyiatul 'Aisyiyah sangat diperlukan untuk memperkuat digital parenting, sehingga aturan pemanfaatan teknologi di sekolah selaras dengan pembiasaan di rumah.

Era kecerdasan buatan bukanlah ancaman yang menghambat, melainkan momentum pembuktian kualitas pendidikan Muhammadiyah. Dengan meneladani perjuangan KH. Ahmad Dahlan serta menjadikan Adab Berkemajuan sebagai arah gerakan, sekolah Muhammadiyah akan terus mencetak generasi unggul—sosok yang piawai menguasai teknologi modern sekaligus teguh menjaga keluhuran akhlak.

*) Mahasiswa Sekolah Ideologi Muhammadiyah

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow