SMA Muhammadiyah
Memuhammadiyahkan Kembali Sekolah Muhammadiyah: Reorientasi Nilai dan Identitas Pendidikan Islam
Smallest Font
Largest Font
Penulis: Lustia Bekti Rohayati, S.Hum., M.Pd.*
Sekolah Muhammadiyah lahir bukan sekadar sebagai lembaga pendidikan formal, melainkan sebagai rahim pembaruan (tajdid) serta sarana dakwah amar ma'ruf nahi munkar. KH. Ahmad Dahlan mendirikan sekolah pertama di Kauman Yogyakarta dengan cita-cita besar: mencetak generasi berakhlak mulia, unggul secara intelektual, dan teguh dalam tauhid.
Namun, di tengah derasnya komersialisasi pendidikan dan persaingan global saat ini, kita perlu berefleksi secara jujur mengenai sejauh mana ruh perjuangan tersebut masih hidup di ruang-ruang kelas kita.
Fenomena disorientasi nilai kini menjadi tantangan nyata yang tidak dapat diabaikan. Di beberapa tempat, sekolah Muhammadiyah berisiko kehilangan daya sentuh ideologisnya akibat pembiasaan ibadah yang bergeser menjadi sekadar rutinitas formal.
Selain itu, mata pelajaran Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) kerap terjebak sebagai hafalan teori tanpa penghayatan mendalam, serta budaya kesederhanaan tergerus oleh gaya hidup konsumtif. Sekolah pun berisiko terlalu berfokus pada kejaran akreditasi dan capaian akademik semata, hingga mengabaikan fungsi utamanya sebagai penyemai kader persyarikatan dan pemersatu umat.
Langkah "Memuhammadiyahkan kembali" sekolah Muhammadiyah hadir sebagai reorientasi strategis untuk mengembalikan ruh perjuangan melalui empat komitmen mendasar. Pertama, penguatan AIK harus diintegrasikan ke dalam seluruh aktivitas sekolah agar pembelajaran tidak berhenti pada lembar ujian semata, melainkan menjadi napas dalam kedisiplinan ibadah dan kepekaan sosial. Kedua, pendidik dan tenaga kependidikan dituntut menjadi kurikulum berjalan (uswah hasanah) yang bertindak sebagai mualim dan murabbi, menanamkan karakter Islam Berkemajuan lewat keteladanan nyata sehari-hari.
Selanjutnya, komitmen ketiga menekankan pembentukan kultur yang unggul dan inovatif, di mana mengembalikan identitas sekolah bukan berarti bersikap kaku, melainkan menghidupkan etos pembaruan agar unggul dalam sains, teknologi, dan tata kelola modern. Komitmen keempat adalah merevitalisasi Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) sebagai laboratorium kepemimpinan yang membentuk karakter siswa secara alami.
Pada akhirnya, mengembalikan identitas ini adalah ikhtiar menjaga amanah pendiri agar sekolah Muhammadiyah tetap berdiri kokoh sebagai benteng moral, pusat keunggulan intelektual, dan penyemai generasi pencerah zaman.
*) Guru SMA Muhammadiyah Piyungan dan Mahasiswa Sekolah Ideologi Muhammadiyah Angkatan 2)
Editors Team
Redaksi MediaMU
Author
What's Your Reaction?
-
13
Like -
1
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow