SMA Muhammadiyah
Jika KH Ahmad Dahlan Hidup Hari Ini, Mungkinkah Ia Mengkritik Muhammadiyah?
Smallest Font
Largest Font
Penulis: Didit Nurcahya*
Bayangkan sejenak, KH Ahmad Dahlan hadir kembali di tengah-tengah kita hari ini. Beliau menyaksikan ribuan sekolah berdiri tegak, deretan pesantren modern berkembang, dan rumah sakit megah sibuk melayani masyarakat. Beliau melihat universitas-universitas terkemuka serta lembaga filantropi besar mengelola dana umat dalam skala luar biasa.
Pertanyaannya, apakah pendiri persyarikatan ini akan tersenyum lega lalu berkata, "Ini persis seperti yang saya cita-citakan"? Atau sebaliknya, beliau justru mengarutkan dahi dan bertanya secara kritis, “Mengapa mesin organisasi raksasa ini bergerak begitu lamban dalam merespons persoalan nyata di akar rumput?”
Kita kerap lupa bahwa Muhammadiyah di tangan KH Ahmad Dahlan merupakan simbol kecermatan dan kelincahan gerakan. Beliau mengejawantahkan teologi Al-Ma'un bukan dalam forum diskusi teoretis, melainkan dengan beraksi langsung merawat anak yatim dan kelompok duafa. Muhammadiyah lahir dari spirit radikal berbasis tauhid: memetakan masalah riil masyarakat, merumuskan solusi paling rasional, lalu mengeksekusinya tanpa terhambat alur birokrasi yang berbelit.
Kini, mari refleksikan diri secara jujur. Keberhasilan Muhammadiyah membangun Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) membawa konsekuensi baru: munculnya birokratisasi. Paham administratif ini perlahan berisiko mengubah gerakan kerelawanan yang dinamis menjadi struktur organisasi yang kaku.
Jika KH Ahmad Dahlan menghadiri rapat-rapat kita saat ini, beliau mungkin akan mengkritik keras prioritas kita. Kita sering kali lebih menyibukkan diri dengan kerapian laporan pertanggungjawaban serta status akreditasi, ketimbang mengukur dampak nyata bagi umat. Ada risiko nyata bahwa AUM bergeser menjadi tujuan akhir yang dihidupi, bukan lagi sarana perjuangan untuk menghidupi masyarakat.
Di lapangan, beban operasional ini kerap menyerap energi besar para kader. Saat merancang dan mengimplementasikan sistem presensi digital berbasis real-time geolocation lengkap dengan rekapitulasi otomatis, terasa betapa rumitnya tantangan manajerial institusi pendidikan modern. Waktu, perhatian, dan tenaga habis hanya untuk memastikan "mesin organisasi" berputar teratur. Bahaya terbesarnya, kita kehilangan fokus untuk melihat ke mana sebenarnya arah tujuan mesin ini.
Sorotan kritis pendiri persyarikatan dipastikan akan makin tajam jika melihat pola kita dalam membina generasi muda di tengah tumpukan prosedur tersebut. Saat menyusun modul dan silabus pembentukan karakter siswa, pertanyaan krusial yang harus diajukan bukanlah seberapa rapi dokumen tersebut sesuai standar operasional, melainkan apakah materi itu benar-benar membekali mereka dengan keterampilan hidup yang relevan.
Di tengah guncangan era digitalisasi dan disrupsi teknologi, jika sekolah-sekolah Muhammadiyah hanya berubah menjadi pabrik administrasi yang mencetak murid penurut, kita sedang mengabaikan spirit tajdid (pembaruan) KH Ahmad Dahlan. Persyarikatan tidak hanya membutuhkan generasi dengan catatan rapi, melainkan pemikir kritis yang memiliki keberanian moral.
Muhammadiyah tidak boleh menjelma menjadi institusi besar yang lamban merespons persoalan sosial baru—seperti ketimpangan akses teknologi digital hingga krisis etika di ruang maya—hanya karena jalur pengambilan keputusan yang terlalu berbelit.
Menghayati ideologi Persyarikatan berarti menyadari bahwa ideologi bukanlah dokumen statis, melainkan instrumen analisis. Jika pisau analisis itu tumpul oleh kenyamanan rutinitas, kita harus mengasahnya kembali melalui otokritik yang konstruktif.
Cara paling otentik menghormati KH Ahmad Dahlan bukanlah sekadar memuji warisan fisik AUM, melainkan mengakui kondisi Muhammadiyah secara objektif lengkap dengan segala kekurangannya. Menyayangi gerakan ini berarti memiliki keberanian untuk mengevaluasi kelambanannya, memangkas inefisiensi birokrasi, dan kembali turun ke masyarakat untuk menyelesaikan masalah riil dengan kelincahan dakwah seperti saat langgar di Kauman pertama kali didirikan.
*) Mahasiswa Sekolah Ideologi Muhammadiyah (SIM) Angkatan 2 PWM D.I.Y
Editors Team
Redaksi MediaMU
Author
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow