Tangguh Bencana dengan Semangat Maulid Nabi, SD Muhammadiyah Karangkajen Gelar Mitigasi dan Baksos
YOGYAKARTA — Peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ di SD Muhammadiyah Karangkajen Yogyakarta dikemas dengan kegiatan yang tidak hanya sarat nilai keagamaan, tetapi juga membekali siswa dengan keterampilan menghadapi situasi darurat.
Bekerja sama dengan Masjid Nurul Asri Deresan Sleman, SD Muhammadiyah Karangkajen menggelar kegiatan mitigasi bencana bagi siswa kelas 4 dan 5. Dalam kegiatan tersebut, para siswa belajar bersikap tenang, sigap, dan tepat ketika menghadapi kondisi darurat.
Selain mitigasi bencana, kegiatan juga diisi dengan pengumpulan bakti sosial berupa barang-barang bekas yang masih layak guna. Rangkaian kegiatan tersebut menjadi sarana pembelajaran bagi siswa tentang pentingnya kesiapsiagaan sekaligus kepedulian terhadap sesama.
Kegiatan mitigasi bencana menghadirkan Wahyu Dwi S., Fasilitator SPAB DIY sekaligus Fasilitator Nasional BNPB Renkon 5.0, sebagai pemateri. Materi disampaikan dengan pendekatan yang mudah dipahami anak-anak, disertai simulasi langsung agar siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teori.
Dalam kegiatan tersebut, siswa dikenalkan dengan berbagai langkah yang perlu dilakukan ketika terjadi bencana di lingkungan sekolah. Salah satu hal yang ditekankan adalah respons ketika mendengar sirine tanda keadaan darurat.
Ketika sirine dibunyikan, siswa dilatih untuk segera meninggalkan ruang kelas dengan tertib dan sigap. Mereka juga mempraktikkan penggunaan tas sebagai pelindung kepala saat proses evakuasi untuk mengurangi risiko terkena benda yang mungkin jatuh.
Kepala SD Muhammadiyah Karangkajen, Novia Nuryany dan Tri Nugroho, menyampaikan bahwa simulasi tersebut memberikan pengalaman langsung kepada siswa tentang pentingnya ketenangan dan kecepatan dalam menghadapi bencana.
“Simulasi tersebut memberikan pengalaman langsung kepada siswa bahwa menghadapi bencana membutuhkan ketenangan sekaligus kecepatan dalam mengambil tindakan. Siswa diarahkan untuk tidak panik, memperhatikan instruksi, serta segera menuju tempat yang lebih aman,” ungkap mereka.
Menurutnya, kegiatan mitigasi perlu dilakukan secara berkala di lingkungan sekolah. Anak-anak membutuhkan pemahaman khusus mengenai kebencanaan agar mampu mengambil tindakan yang tepat dalam situasi darurat dengan tetap mengikuti arahan guru dan petugas.
Melalui kegiatan tersebut, SD Muhammadiyah Karangkajen berupaya membangun budaya sekolah yang aman dan tangguh bencana. Pengetahuan yang diperoleh siswa diharapkan tidak hanya berguna ketika berada di sekolah, tetapi juga dapat diterapkan di lingkungan keluarga dan masyarakat.

Antusiasme terlihat ketika siswa mengikuti berbagai arahan dan simulasi yang diberikan pemateri. Bagi para siswa, praktik evakuasi menjadi pengalaman baru yang sekaligus menanamkan pemahaman bahwa keselamatan harus menjadi prioritas utama ketika bencana terjadi.
Pesan yang ditanamkan pun sederhana, tetapi penting: jangan panik, kenali tanda bahaya, lindungi diri, dan segera menuju tempat aman sesuai prosedur.
Simulasi juga membiasakan siswa untuk tidak menganggap remeh bunyi sirine. Sirine bukan sekadar suara peringatan, melainkan tanda bagi warga sekolah untuk segera mengambil tindakan sesuai prosedur keselamatan yang telah dipelajari.
Dengan latihan berulang, respons siswa terhadap keadaan darurat diharapkan dapat terbentuk dengan baik. Ketika menghadapi situasi sebenarnya, mereka diharapkan tidak kebingungan dalam menentukan langkah yang harus dilakukan.
Selain membekali siswa dengan keterampilan evakuasi, kegiatan ini juga menjadi sarana memperkuat kesiapsiagaan seluruh warga sekolah. Mitigasi bencana bukan hanya tanggung jawab pihak tertentu, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh warga sekolah.
Di sisi lain, pengumpulan barang bekas yang masih layak guna menjadi bagian penting dari rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ. Kegiatan tersebut mengajarkan kepada siswa bahwa semangat meneladani Rasulullah ﷺ dapat diwujudkan melalui tindakan nyata yang bermanfaat bagi sesama.
Barang-barang yang sudah tidak digunakan oleh satu keluarga tetapi masih memiliki nilai guna dapat dimanfaatkan oleh orang lain yang membutuhkan. Dari kegiatan sederhana tersebut, siswa belajar tentang berbagi, kepedulian, dan pentingnya tidak menyia-nyiakan barang yang masih dapat digunakan.
Bakti sosial juga mengajarkan bahwa berbagi tidak selalu harus berupa sesuatu yang baru atau mahal. Barang bekas yang masih layak pakai pun dapat menjadi bentuk kebaikan apabila diberikan kepada orang yang tepat.
Kolaborasi SD Muhammadiyah Karangkajen dengan Masjid Nurul Asri Deresan Sleman menunjukkan pentingnya sinergi antara sekolah, masjid, keluarga, dan masyarakat dalam mendukung pendidikan anak.
Mitigasi bencana dan bakti sosial menjadi perpaduan pembelajaran yang menyentuh dua aspek penting dalam pembentukan karakter siswa, yakni kesiapsiagaan dan kepedulian. Di satu sisi, siswa belajar melindungi diri dan orang lain ketika menghadapi bencana. Di sisi lain, mereka diajak peduli dan berbagi melalui kegiatan sosial.
Pendidikan seperti ini diharapkan mampu membentuk generasi yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga berkarakter kuat, tanggap terhadap lingkungan, serta peduli kepada sesama.
Melalui simulasi sederhana, mulai dari merespons sirine, melindungi kepala dengan tas, hingga keluar dari kelas secara sigap dan tertib, siswa mendapatkan pengalaman yang dapat menjadi bekal dalam membangun budaya keselamatan sejak usia sekolah.
Sementara itu, kegiatan bakti sosial menanamkan pesan bahwa menjadi pribadi yang tangguh juga berarti mampu membantu dan peduli kepada orang lain. Nilai tersebut sejalan dengan keteladanan Nabi Muhammad ﷺ yang mengajarkan kepedulian, kasih sayang, tolong-menolong, dan kebaikan kepada sesama.
Dengan demikian, peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ di SD Muhammadiyah Karangkajen tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Momentum tersebut dihidupkan melalui pengalaman nyata yang mengajarkan siswa untuk sigap menghadapi bencana, tertib dalam melakukan evakuasi, serta peduli dan mau berbagi kepada sesama.
Ke depan, kegiatan serupa diharapkan terus dikembangkan sebagai bagian dari pendidikan karakter dan budaya sekolah. Sebab, sekolah yang aman bukan hanya sekolah yang memiliki sarana memadai, tetapi juga memiliki warga yang memahami risiko, mengetahui prosedur keselamatan, dan siap bertindak ketika menghadapi keadaan darurat.
Dari lingkungan sekolah, semangat kesiapsiagaan dan kepedulian tersebut diharapkan dapat dibawa pulang oleh para siswa. Mereka dapat membagikan kembali pengetahuan yang diperoleh kepada orang tua dan keluarga, sehingga edukasi mitigasi bencana dan kepedulian sosial dapat meluas ke masyarakat.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow