Songsong Ramadan 1447 H, 800 Guru SD Muhammadiyah Se-Kota Yogya Padati Masjid Gedhe Kauman
YOGYAKARTA — Menyambut datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, sekitar 800 kepala sekolah, guru, dan karyawan SD Muhammadiyah se-Kota Yogyakarta memadati Masjid Gedhe Kauman, Kamis (5/2). Mereka mengikuti Pengajian Akbar Songsong Ramadan yang diselenggarakan Badan Kerja Sama (BKS) SD Muhammadiyah Kota Yogyakarta.
Kegiatan ini menjadi ikhtiar bersama untuk memperkuat kesiapan spiritual para pendidik Muhammadiyah menjelang Ramadan, sekaligus mempererat soliditas antar insan pendidikan di lingkungan persyarikatan.
Ketua BKS SD Muhammadiyah Kota Yogyakarta, H. Saijan, S.Ag., M.S.I., dalam sambutannya menyampaikan bahwa pengajian ini merupakan agenda kedua pada tahun ajaran 2025/2026. Ia mengapresiasi capaian sekolah-sekolah Muhammadiyah yang terus menunjukkan perkembangan positif.
“Selamat atas prestasi masing-masing sekolah yang luar biasa. Perolehan siswa baru melalui jalur inden SPMB sudah menunjukkan angka yang sangat signifikan,” ujarnya.
Senada dengan itu, Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Yogyakarta, Drs. H. Akhid Widi Rahmanto, menekankan pentingnya pengajian sebagai ruang penguatan ikatan batin dan ideologis antar guru Muhammadiyah.
“Kegiatan ini sangat penting untuk menjaga soliditas kita sebagai pejuang pendidikan Muhammadiyah,” tuturnya.
Pengajian menghadirkan dr. H. Agus Taufiqurrohman, Sp.S., M.Kes., Ketua PP Muhammadiyah. Dalam tausiyahnya, ia mengawali dengan pemaparan perkembangan dakwah Muhammadiyah di tingkat internasional, termasuk kiprah Muhammadiyah Australia College (MAC) yang kini menjadi sekolah favorit diaspora internasional dengan tagline “Sekolah Akhlak, Sekolah Ihsan.”
Lebih lanjut, dr. Agus menegaskan bahwa guru menempati posisi pertama dalam mata rantai keilmuan. Ia mengutip hadis riwayat Baihaqi tentang lima golongan manusia dalam relasinya dengan ilmu.
“Jadilah orang berilmu, penuntut ilmu, pendengar ilmu, atau pencinta ilmu. Jangan menjadi golongan kelima, karena itu membawa kecelakaan,” pesannya.
Ia juga mengingatkan bahwa profesi guru harus diniatkan sebagai ibadah. Meski secara materi belum tentu melampaui profesi lain, namun guru memiliki keutamaan pahala yang terus mengalir dari setiap kebaikan dan ilmu yang diajarkan, sebagaimana ditegaskan dalam hadis riwayat Imam Muslim.
Dalam konteks menyambut Ramadan 1447 H, dr. Agus memaparkan empat kategori ibadah yang dimuliakan Allah Swt. Pertama, ibadah yang pahalanya berlipat ganda, yakni haji mabrur dengan ciri pribadi yang gemar berbagi, santun dalam tutur kata (liinul kalam), dan menebar kedamaian (afsussalam).
Kedua, ibadah berbasis tempat, seperti salat di Masjidil Haram dengan pahala 100 ribu kali lipat dan Masjid Nabawi dengan 1.000 kali lipat, termasuk keutamaan Raudhah sebagai tempat mustajab doa.
Ketiga, ibadah berbasis waktu, yakni salat tahajud. Sebagai dokter spesialis saraf, dr. Agus menjelaskan bahwa tahajud berdampak positif secara medis. “Orang yang rajin tahajud memiliki kadar kortisol lebih rendah dan daya tahan tubuh yang meningkat. Kuncinya tidur cukup setelah Isya dan bijak menggunakan smartphone,” jelasnya.
Keempat, ibadah Ramadan, bulan ketika pintu surga dibuka dan setan dibelenggu. Mengutip Prof. Quraish Shihab, Ramadan dimaknai sebagai proses pengasahan iman hingga mencapai derajat muttaqin serta pembakaran dosa melalui puasa dan qiyamul lail, sehingga seorang Muslim kembali suci saat Idulfitri.
Menutup tausiyahnya, dr. Agus berpesan agar puasa tidak berhenti pada lapar dan dahaga semata. Ia menekankan pentingnya pengendalian emosi, karena marah secara medis berpotensi memicu stroke dan penyakit jantung koroner.
“Ramadan adalah momentum mengasah hati, membentuk pribadi muttaqin, dan membakar dosa-dosa masa lalu hingga kita kembali fitrah,” pungkasnya seraya mengajak jamaah memperbanyak dzikir hasbunallahu wa ni‘mal wakil.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow