J.S. Khairen Hadir di SMA Muhi, Ajak Murid Menjelajahi Dunia Lewat Tulisan
YOGYAKARTA — SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta (SMA Muhi) menghadirkan penulis J.S. Khairen dalam talkshow literasi di Grha As Sakinah, Kamis (15/10), mulai pukul 07.30 WIB. Acara yang diselenggarakan Bidang Perpustakaan SMA Muhi ini diikuti sekitar 300 peserta, terdiri atas murid SMA Muhi dan masyarakat umum yang berminat terhadap dunia literasi dan kepenulisan.
Talkshow berlangsung hangat dan interaktif. Para peserta berkesempatan mengenal lebih dekat perjalanan kreatif J.S. Khairen sekaligus menggali inspirasi tentang cara mengolah gagasan, pengalaman, dan kepekaan terhadap lingkungan menjadi karya yang menarik dan bermakna.
Melalui talkshow tersebut, peserta diajak memahami bahwa membaca dan menulis bukan sekadar aktivitas akademik, tetapi juga sarana untuk memperluas wawasan, menyampaikan pemikiran, merekam pengalaman, serta mengangkat berbagai persoalan kehidupan secara kreatif.
J.S. Khairen dikenal sebagai penulis yang memadukan humor, kritik sosial, dan refleksi kehidupan dalam cerita-ceritanya. Karya-karyanya menghadirkan beragam persoalan yang dekat dengan pengalaman pembaca muda, mulai dari pendidikan, keluarga, perjuangan hidup, hingga pencarian jati diri.
Sejumlah karyanya, seperti Kami (Bukan) Sarjana Kertas, Rinduku Sederas Hujan Sore Itu, dan serial Dompet Ayah Sepatu Ibu, menunjukkan keberagaman tema yang diangkat. Melalui cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, pembaca diajak memahami realitas dari sudut pandang yang lebih luas sekaligus merefleksikan berbagai persoalan sosial.
Karya sastra juga dapat menjadi sarana untuk mengenali beragam karakter manusia, memahami perbedaan sudut pandang, dan mengembangkan empati. Dengan demikian, membaca fiksi tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga memperkaya wawasan serta membentuk pola pikir yang kritis dan terbuka.
Talkshow berlangsung dalam suasana akrab dengan diskusi seputar pengalaman dan proses kreatif dalam menulis. Melalui pertemuan langsung dengan penulis, peserta diajak memahami bahwa menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan proses yang membutuhkan kepekaan, ketekunan, keberanian bereksperimen, dan kemauan untuk terus belajar.
Sebuah tulisan yang menarik dapat berangkat dari kemampuan mengamati lingkungan, memahami persoalan, mengumpulkan informasi, serta mengolah pengalaman menjadi gagasan yang dapat dipahami pembaca. Inspirasi pun tidak selalu harus berasal dari peristiwa besar. Percakapan sederhana, pengalaman di sekolah, dinamika keluarga, hingga fenomena sosial dapat menjadi bahan tulisan apabila diamati secara mendalam dan disampaikan melalui sudut pandang yang khas.
Suasana diskusi yang hidup turut memperkaya pengalaman peserta. Literasi tidak hanya tumbuh melalui kegiatan membaca secara mandiri, tetapi juga melalui pertukaran gagasan dan keberanian menyampaikan pendapat. Melalui kegiatan ini, murid diharapkan semakin percaya diri mengembangkan potensi, menemukan gaya penulisan sendiri, dan menghasilkan karya sesuai minat serta kemampuannya.
Kepala SMA Muhi, Drs. H. Herynugroho, M.Pd., menyampaikan bahwa pendidikan karakter dan literasi memiliki hubungan erat, baik secara teoretis maupun dalam penerapannya di lingkungan pendidikan.
Menurutnya, literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan memahami informasi, menilai kebenaran suatu gagasan, berpikir kritis, dan mengambil keputusan secara bijaksana. Sementara itu, pendidikan karakter berorientasi pada pembentukan nilai dan perilaku positif, seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, empati, kerja keras, serta penghargaan terhadap perbedaan.
Keduanya saling melengkapi karena aktivitas literasi dapat menjadi sarana untuk mengenalkan, memahami, dan merefleksikan nilai-nilai karakter melalui cerita, informasi, maupun pengalaman manusia.
Dalam praktik pendidikan, hubungan tersebut perlu diwujudkan melalui pembangunan budaya membaca dan menulis yang berjalan seiring dengan pembiasaan sikap bertanggung jawab dalam menggunakan informasi dan menyampaikan pendapat. Murid tidak hanya diharapkan mampu memahami isi bacaan, tetapi juga dapat membedakan fakta dan opini, menghargai pandangan orang lain, menghindari penyebaran informasi yang tidak benar, serta menggunakan pengetahuan untuk melakukan hal-hal positif.
Dengan demikian, penguatan literiasi yang berpijak pada pendidikan karakter dapat membantu sekolah membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang dalam sikap dan perilaku.
Talkshow bersama J.S. Khairen menjadi bagian dari upaya Perpustakaan SMA Muhi dalam menghadirkan pengalaman literasi yang lebih dekat, menarik, dan bermakna bagi murid maupun masyarakat. Kegiatan ini sekaligus memperluas peran perpustakaan sebagai ruang pengembangan pengetahuan, kreativitas, dialog, dan pembentukan karakter, bukan semata-mata tempat menyimpan dan meminjam buku.
Melalui talkshow ini, budaya literasi diharapkan tumbuh melalui pengalaman yang menyenangkan, interaksi dengan tokoh inspiratif, serta kesempatan untuk melihat bagaimana sebuah gagasan dapat berkembang menjadi karya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow