Ajarkan Polymath di Era AI, SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta Siapkan Kader Visioner

Ajarkan Polymath di Era AI, SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta Siapkan Kader Visioner

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Perkembangan kecerdasan artifisial (AI) membawa tantangan baru bagi dunia pendidikan. Sekolah tidak cukup hanya membekali siswa dengan kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga perlu menyiapkan generasi yang mampu berpikir lintas disiplin, menciptakan gagasan, serta menggunakan pengetahuan untuk menghadirkan kemaslahatan.

Gagasan tersebut diusung SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta melalui konsep “Polymath di Era AI”. Konsep ini menekankan pentingnya membentuk pembelajar yang memiliki keluasan pengetahuan dan mampu menghubungkan berbagai bidang untuk melahirkan solusi baru.

Kepala SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta, Fitri Sari Sukmawati, M.Pd., menjelaskan bahwa polymath merupakan pembelajar yang menguasai berbagai bidang sekaligus mampu mengintegrasikan pengetahuan tersebut.

“AI bisa membantu mencari data dan membuat karya. Tapi manusia yang harus menentukan pertanyaan, nilai, dan maknanya. Karena itu kita butuh generasi yang multiperspektif, bukan sekadar multitalenta,” ujar Fitri kepada wartawan, Kamis (10/9).

Menurutnya, pendekatan tersebut sejalan dengan konsep Pembelajaran Mendalam yang mendorong siswa memahami persoalan secara lebih utuh melalui berbagai perspektif keilmuan.

Ia mencontohkan pembelajaran mengenai perubahan iklim. Siswa tidak hanya mempelajarinya dari perspektif IPA, tetapi juga dapat menggunakan matematika untuk mengolah data, memahami kebijakan sosial, membuat kampanye digital, hingga menelaah nilai-nilai Islam mengenai tanggung jawab manusia terhadap lingkungan.

Dalam konteks pendidikan Muhammadiyah, konsep polymath ditempatkan dalam kerangka Islam Berkemajuan. Pendidikan diarahkan untuk melahirkan manusia yang berilmu, beramal, berakhlak, serta mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.

Karena itu, sekolah tidak menempatkan bidang keilmuan secara terpisah dalam pilihan “sains atau seni”, maupun “teknologi atau agama”. Sebaliknya, berbagai disiplin ilmu didialogkan agar siswa memiliki cara pandang yang lebih utuh. Matematika dapat bertemu dengan seni, sains dengan AI, sementara ilmu pengetahuan tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman.

Perubahan tersebut juga menuntut transformasi peran guru. Guru tidak lagi hanya menjadi sumber informasi, tetapi berperan sebagai learning designer, mentor, sekaligus pembangun karakter siswa. Sementara itu, kepala sekolah berperan sebagai learning leader yang membangun budaya eksperimen, kolaborasi, dan pembelajaran lintas mata pelajaran.

SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta mulai menerapkan pendekatan tersebut melalui pembelajaran STEAM dengan strategi project-based learning. Sekolah juga mengembangkan sistem “kelas bergerak” atau moving class yang disesuaikan dengan minat siswa terhadap jurusan kuliah, serta mengintegrasikan sejumlah mata pelajaran melalui lesson study dan kegiatan kokurikuler.

“Visi kami di 2045: siswa meneliti, membuat proyek, menggunakan AI secara etis, berkolaborasi global, tapi tetap berakar pada nilai lokal dan keislaman,” kata Fitri.

Menurut Fitri, tantangan pendidikan di era AI bukanlah bagaimana manusia mengalahkan mesin, melainkan bagaimana memastikan perkembangan teknologi tetap menempatkan manusia sebagai pusat. Karena itu, pendidikan perlu membentuk kader yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki empati, integritas, kreativitas, dan kepedulian terhadap kemaslahatan.

“Masa depan bukan milik yang paling banyak tahu. Masa depan milik mereka yang mampu menghubungkan pengetahuan, menciptakan makna, dan mengubahnya jadi manfaat,” tegasnya.

Melalui ekosistem pendidikan yang berorientasi pada tajdid, SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta berupaya menyiapkan kader polymath yang mampu merespons perubahan zaman. Penguasaan teknologi dan keluasan pengetahuan diharapkan berjalan beriringan dengan karakter, nilai keislaman, dan komitmen untuk memberikan manfaat bagi umat dan masyarakat.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow