Arif Jamali Muis: Kepala Sekolah Muhammadiyah Harus Bertransformasi dan Memikirkan Sekolah 24 Jam
SLEMAN — Direktur Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Arif Jamali Muis, M.Pd., menegaskan bahwa menjadi kepala sekolah di lingkungan Muhammadiyah bukan sekadar menjalankan tugas administratif, melainkan memimpin proses transformasi pendidikan secara berkelanjutan.
Hal itu disampaikannya saat memberikan arahan dalam pelantikan Kepala SD Muhammadiyah Condongcatur dan Kepala SD Muhammadiyah Sidoarum yang berlangsung di Aula Kantor Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sleman, Ahad (12/7).
Menurut Arif, amanah sebagai kepala sekolah Muhammadiyah merupakan tanggung jawab yang berlangsung selama 24 jam. Selain memastikan mutu pembelajaran, kepala sekolah juga dituntut mampu mengembangkan sekolah dan meningkatkan kesejahteraan guru serta tenaga kependidikan.
"Program prioritas kepala sekolah adalah meningkatkan kesejahteraan guru. Cara yang paling realistis saat ini adalah meningkatkan mutu sekolah sehingga jumlah peserta didik terus bertambah," ujarnya.
Ia menjelaskan, karakter sekolah Muhammadiyah berbeda dengan banyak lembaga pendidikan lainnya. Sebagian besar sekolah Muhammadiyah lahir dari inisiatif akar rumput melalui pimpinan cabang maupun ranting, sehingga semangat pengabdian dan dakwah menjadi fondasi utama. Namun, menurutnya, semangat tersebut tidak boleh dimaknai bahwa kesejahteraan guru cukup mengandalkan keikhlasan semata.
Dalam arahannya, Arif juga menyoroti perubahan karakter peserta didik akibat pesatnya perkembangan teknologi. Menurutnya, banyak guru saat ini berasal dari generasi yang tumbuh dengan budaya membaca buku cetak, sementara peserta didik didominasi Generasi Z dan Generasi Alpha yang memiliki pola belajar dan cara berpikir berbeda.
"Kalau guru tidak bertransformasi, akan terjadi benturan budaya di ruang kelas," katanya.
Karena itu, ia mengajak para guru untuk terus belajar dan meningkatkan kompetensi. Guru, lanjutnya, tidak cukup hanya mengajak murid belajar, tetapi juga harus menjadi teladan sebagai pembelajar sepanjang hayat.
Selain transformasi guru, Arif menilai sekolah Muhammadiyah juga harus berani berinovasi dalam berdakwah. Ia mencontohkan lahirnya komunitas Kucing Muhammadiyah (KucingMu) yang jadi viral saat ini sebagai bentuk dakwah kreatif yang mampu menarik perhatian masyarakat luas, termasuk mereka yang sebelumnya tidak mengenal Muhammadiyah.
Menurutnya, inovasi seperti itu menunjukkan bahwa dakwah dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan yang relevan dengan perkembangan zaman, tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam.
Arif juga mengingatkan bahwa pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) perlu menjadi bagian dari kompetensi guru. Teknologi tersebut dapat membantu menyusun materi pembelajaran, pidato, maupun referensi akademik secara lebih efektif.
"Orang pintar hari ini bukan lagi sekadar menghafal, tetapi mampu memanfaatkan teknologi secara tepat," ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Muhammadiyah telah memiliki modal besar untuk menghadapi tantangan masa depan melalui Risalah Islam Berkemajuan hasil Muktamar ke-48 Muhammadiyah tahun 2022 di Surakarta. Dokumen tersebut, menurutnya, mengajarkan pola pikir bertumbuh (growth mindset) yang mendorong warga Muhammadiyah terus mencari solusi atas berbagai persoalan.
Karena itu, ia mendorong kepala sekolah menghadirkan budaya belajar, pelatihan, dan inovasi secara berkelanjutan di lingkungan sekolah.
Arif juga menekankan pentingnya kolaborasi antar sekolah Muhammadiyah. Ia berharap sekolah yang telah maju tidak berjalan sendiri, tetapi ikut membantu sekolah Muhammadiyah lainnya agar berkembang bersama.
Mengutip pesan tokoh Muhammadiyah Abdul Malik Fajar, Arif mengatakan bahwa kepala sekolah harus benar-benar memikirkan kemajuan sekolahnya sepanjang waktu.
"Kalau ingin sekolah maju, kepala sekolah harus memikirkannya selama 24 jam. Sekolah tidak akan berkembang kalau pemimpinnya tidak memimpikan kemajuannya," tuturnya.

Secara khusus, Arif mengucapkan selamat kepada Estri Rukmiyanti, M.Pd. sebagai Kepala SD Muhammadiyah Condongcatur dan Yuni Puspita Sari, M.Pd. sebagai Kepala SD Muhammadiyah Sidoarum yang baru dilantik untuk periode 2026-2030. Ia berharap SD Muhammadiyah Condongcatur mampu mempertahankan berbagai prestasi yang telah diraih sekaligus menjadi inspirasi bagi sekolah Muhammadiyah lainnya.
Sementara itu, kepada SD Muhammadiyah Sidoarum, ia berharap kepemimpinan baru mampu meningkatkan jumlah peserta didik serta terus mengembangkan kualitas layanan pendidikan.
Menutup arahannya, Arif optimistis sekolah-sekolah Muhammadiyah di Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki masa depan yang cerah. Menurutnya, makin banyak orang tua yang memilih sekolah Muhammadiyah karena menginginkan pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kuat dalam pembinaan akhlak dan nilai-nilai keislaman, maka peluang ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow