MTs Muhammadiyah Kasihan Perkuat Ideologi Kader Ortom, Siapkan Generasi Penerus Persyarikatan
BANTUL — MTs Muhammadiyah Kasihan terus memperkuat sistem kaderisasi dengan menanamkan nilai-nilai ideologi Muhammadiyah kepada para pelajar. Melalui kegiatan Penguatan Ideologi Kader Muhammadiyah Se-Ortom yang berlangsung selama dua hari, Sabtu dan Ahad (18–19/7), madrasah tersebut membekali kader muda dengan pemahaman keislaman, kemuhammadiyahan, kepemimpinan, serta jati diri sebagai penerus Persyarikatan.
Kegiatan yang digelar di lingkungan MTs Muhammadiyah Kasihan ini diikuti 40 peserta dari tiga Organisasi Otonom (Ortom) Muhammadiyah, yakni Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Hizbul Wathan (HW), dan Tapak Suci Putera Muhammadiyah.
Penguatan ideologi dipandang menjadi kebutuhan penting di tengah derasnya arus informasi, perubahan sosial, dan tantangan kehidupan pelajar masa kini. Karena itu, madrasah berupaya menghadirkan ruang pembinaan yang tidak hanya mengembangkan kemampuan organisasi, tetapi juga menanamkan nilai-nilai Islam Berkemajuan serta memperkuat identitas kader Muhammadiyah.
Berbagai materi strategis disampaikan oleh narasumber yang berkompeten di bidangnya. Materi Al-Islam disampaikan oleh Nadia Ummi Fariha, S.Ag., yang mengajak peserta memahami Islam sebagai ajaran yang membawa rahmat, membentuk akhlak mulia, dan menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, materi Kemuhammadiyahan disampaikan oleh Firman Arief Prataditya, S.Sos.I., M.Pd. Ia mengulas sejarah berdirinya Muhammadiyah, cita-cita besar Persyarikatan, serta kontribusinya dalam bidang pendidikan, dakwah, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat.
Peserta juga mendapatkan materi Ideologi Kader Muhammadiyah dari Bintang Adrian Perdana Putra. Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa kader Muhammadiyah harus memiliki kesadaran ideologis yang kuat agar tidak mudah kehilangan arah di tengah berbagai tantangan zaman. Menurutnya, ideologi Muhammadiyah tidak cukup dipahami sebagai pengetahuan, tetapi harus diwujudkan dalam sikap, perilaku, semangat berdakwah, dan pengabdian kepada masyarakat.
Materi penutup mengenai kepemimpinan disampaikan oleh Rahmad Boli Raya, S.Pd. Ia mengajak peserta memahami bahwa kepemimpinan bukan sekadar berada di posisi terdepan, melainkan kesiapan untuk melayani, memberi teladan, bertanggung jawab, dan menghadirkan manfaat bagi orang lain.
Rahmad menegaskan, Muhammadiyah membutuhkan kader muda yang berani mengambil peran sebagai pemimpin yang berintegritas, progresif, dan berkemajuan. Sosok KH Ahmad Dahlan, menurutnya, menjadi teladan bagaimana seorang pemimpin mampu membawa perubahan melalui keteladanan, keberanian berpikir maju, dan pengabdian tanpa pamrih kepada umat dan bangsa.
Selain menjadi wadah penguatan ideologi, kegiatan ini juga mempererat sinergi antarkader dari IPM, Hizbul Wathan, dan Tapak Suci. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu membangun budaya kaderisasi yang semakin kokoh serta saling menguatkan dalam menjalankan peran masing-masing sebagai organisasi otonom Muhammadiyah.
Pembina Organisasi MTs Muhammadiyah Kasihan, Hari Gunawan, S.H., mengapresiasi terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, program ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat sistem kaderisasi di lingkungan madrasah.
"Harapan kami, program seperti ini tidak berhenti pada kegiatan ini saja, tetapi dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai wadah penguatan perkaderan bagi seluruh organisasi otonom yang ada di MTs Muhammadiyah Kasihan. Melalui kegiatan ini, kader IPM, Hizbul Wathan, dan Tapak Suci memiliki ruang belajar bersama untuk memperkuat ideologi, kepemimpinan, dan semangat ber-Muhammadiyah sejak usia pelajar," ujarnya.
Ia menambahkan, program tersebut merupakan bagian dari ikhtiar melahirkan diaspora kader muda Muhammadiyah yang siap mengemban amanah Persyarikatan pada masa mendatang. Kaderisasi yang dimulai sejak bangku sekolah diyakini menjadi fondasi penting dalam mencetak generasi penerus yang memiliki komitmen ideologis, kepedulian sosial, dan semangat pengabdian.
Melalui kegiatan ini, MTs Muhammadiyah Kasihan menegaskan bahwa kaderisasi bukan sekadar aktivitas organisasi, melainkan proses membangun karakter dan peradaban. Dari madrasah diharapkan lahir kader-kader Muhammadiyah yang berakhlak mulia, berilmu, berkemajuan, serta siap melanjutkan estafet perjuangan Persyarikatan dalam mewujudkan Islam yang sebenar-benarnya.
What's Your Reaction?
-
4
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow